Raden Asnawi Bin Abdullah-Kudus

KYAI NASIONALIS SELAKSA KARYA

By Isfandiari MD

     ….Ulama, Habib, ajengan, ustad, santri, abangan atau rakyat umum wajib teladani sosok ini. Kharismatik, penuh ilmu, banyak karya dan sangat dibutuhkan saat itu: Nasionalis! Bernama lengkap, Asy-Syaikh al-‘Allamah Shahibul-fadhilah Haji Raden Muhammad Asnawi bin Abdullah Husnin al-Qudsi atau Raden Asnawi Kudus. Dirunut dari atas lagi, keturunan ke-14 Sunan Kudus, atau Sayyid Ja’far Shadiq dan keturunan ke-5  Kiai Ahmad Mutamakkin, Kajen, Pati….

Bukan Kyai biasa! Selain intens berdakwah, juga salah satu pendiri ormas keagamaan terbesar dunia, Nahdlatul Ulama. Moment dramatis bersejarah saat ditemui KH. Wahab Chasbullah tahun 1924. Berdua berembuk-musyawarah dalam sebuah masalah, bentengi akidah ahlussunah wal jama’ah agar tak tercerabut di bumi Nusantara. Keduanya sepakat manut gabung tim bersama sang pendiri, KH. Hasyim As’ari hadir di Surabaya, (16 Rajab 1344 Hijriyah- 31 Januari 1926)-.Hari luarbiasa, bebuka Nahdlatul Ulama dan kyai Asnawi turut membidani bersama Kyai-Kyai besar lain.

         Terpenting keilmuannya. Tajam pikirnya dishare lewat literasi. Sisi akidah, lahir kitab karyanya Jawab Sualipun Mu’taqad Seked Miwah Sakdalilipun Saha Ringkesipun Pindah Ngangge Dalil Ijmali ‘Aqli Karanganipun Kiyahi Raden Asnawi Kampung Bendan Kudus atau yang lebih dikenal di kalangan santri dengan sebutan Mu’taqad seket. Bejibun karya lain, Syari’atul Islam Lit Ta’limin Nisa’ wal Ghulam (1934), Kitab Fashalatan (1954), Kitab Soal Jawab Mu’takad Seket, Syair Nasionalisme Relijius,Shalawat Asnawiyah,Srengenge Nyata,Syiir Sekar Melathi juga Syiir Nashihat.

         Lewat cakrawala pemikiran  Syekh Nawawi al-Bantani,  ia menyebut ada empat tanda orang beragama: Pertama, beribadah dengan niat dan ikhlas. Kedua, jalankan perintah wajib (fardu). Ketiga, jauhi barang haram dan terakhir percaya penuh akidah ahlussunnah wal jama’ah sesuai contoh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi. Baginya belajar tauhid wajib, fardu ain bagi muslim, lanjut mengenbal Tuhan (ma’rifat) berdasar Al-Qur’an, Sunnah dan dalil aqli (akal-pikiran) .

                   Dalam fikih,  ia bermahzab Syafi’i. Agar jadi panduan sistematik, lahir karya kitabnya, kitab Fashalatan. Kitab kecil bahasa Jawa, aksara arab pegon tuntutan praktis salat lengkap .Baginya, salah jadi yang terpenting dalam fikih. Ada kisah serius berkenaan hal ini. Tahun 30-an, beliau dihadapkan hukum kolonial di pengadilan atas aduan penghinaan pada orang yang tidak shalat. Kyai sohor ini terang-terangan bilang dalam pidatonya bahwa orang yang tidak shalat jelas kafir malah orang gila.Ini menyinggung banyak khalayak hingga ia berhadapan dengan hukum. Hakim  membujuk agar kata-kata dicabut, kyai menolak karena termaktub dalam kitab fikih fala tajibu ‘ala kafirin ashliyin wa shabiyin wa majnunin (shalat tidak wajib bagi orang kafir, kanak-kanak, dan orang gila).  Jadi relevan, yang tidak shalat, tidak merasa terbebani dengan kewajiban, ya majnun alias gila.  Ujungnya, ia didenda 100 gulden dan tetap menolak karena merasa tidak salah. Epik! Hakim yang simpati dan berhitung beliau kyai besar akhirnya mengalah.  Sang hakim merogoh uang dari kantongnya, 100 gulden diberikan ke jaksa lantas ke kepada Raden Asnawi untuk bayar denda sesuai keputusan.

                   Kyai Asnawi concern betul menyoal  hubungan syariat dan hakikat, jadi landasar berpikir dalam istilah akidah,fikih, tasawuf dan bentuk komunitas tarekat. Isinya  ikhwal akhlak  baik (mahmudah), musnahkan akhlak jelek  (madzmumah) ikhtiar bermesraan dengan Allah (taqarrub dan ma’rifat). Siapa saja bisa, tak harus lewat tata cara yang lazim dilakoni kaum tarekat.Jadi terjawab sudah, ia tidak menganut tarekat tertentu. Corak tasawufnya ‘amali (akhlaki).menonjol dalam keseharian dan karya. Ia ketat soal fikih, getol latihan rohani bentuk wirid dan dzikir tertentu.

                   Soal tekun, ia tak tertandingi! Sejak usia 25 tahun sudah mengajar setiap Jumat Pahing, beres shalat salat Jumat. Zona mengajarnya banyak, sesi Tauhid di Masjid Sunan Muria, 18 kilometer dari kota Kudus berliku menuju kaki Gunung Muria, gunung bertinggi  1625 mdpl, ibadah ngajar ini dilakoninya berjalan kaki. Ia juga kerap keliling dari masjid ke masjid sekitar kota saat salat Subuh. Rutin mengajar  Khataman Tafsir al-Jalalain tiap Ramadan di Pesantren Bendan Kudus, Khataman kitab Bidayatul Hidayah dan al-Hikam tiap Ramadan di Tajuk Makam Sunan Kudus. Lanjut  membaca kitab Hadist Bukhari beres shalat subuh di Masjid Al Aqsha Manarat Qudus. Masih di bulan Ramadhan. Saat di Mekah,  mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya. Saat itu, ikut belajar, Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Kiai Haji Bisri Sansuri (Pati/Jombang), Kiai Haji Dahlan (Pekalongan), KH. Shaleh (Tayu, Pati), Kiai Haji Chambali (Kudus), Kiai Haji Mufid (Kudus), dan Kiai Haji Ahmad Mukhit (Sidoarjo).

         Ruang mengajarnya juga sistematik. Tahun 1919 dirikan Madrasah Qudsiyyah di Kudus, madrasah salafiyah di kelurahan KerjasanKota Kudus. Didirikannya pesantren Raudlatuth Tholibin (1927) di atas tanah wakaf mertuanya Kiai Haji Abdullah Faqih di dukuh Bendan, kelurahan Kerjasankota Kudus. Alhamdulillah, disokong para saudagar, dan dermawan Muslim Kudus. Di Mekah sebelum kemerdekaan, ia gabung pergerakan Sarekat Islam ditunjuk jadi komisaris di. Dalam jabatan itulah ia kerap berembuk dan dekat sevara pribadi dengan aktivis jempolan pergerakan semisal, Agus SalimOemar Said Tjokroaminoto, dan beberapa tokoh lainnya. Pulang dari Mekah, dipercaya jadi penasihat Sarekat Islam cabang Kudus pada 1918.

                   Tahun 1959 atau 25 Jumadil Akhir 1378 menjadi nuansa sedih warga Nusantara. Kyai Asnawi berpulang dalam usia 98  tahun, meninggalkan 3 istri, 5 putra, 23 cucu dan 18 cicit. Kepergiannya disiarkan langsung  Radio Republik Indonesia Jakarta , berita pagi pukul 06.00 WIB atas inisiatif  Abdul Wahab Hasbullah , mentri Agama RI saat itu. Sampai kini, hari wafatnya tanggal 24 atau 25 Jumadil Akhir diperingati Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin, Kudus, Jawa Tengah.

                   Sebuah kehilangan besar, tokoh tauladan, penuh ilmu, intens berdakwah dan sangat cinta tanah air. Alfatihah..

Biografi singkat:

Lahirtahun 1861 di desa Damaran, Kudus dengan nama Raden Ahmad Syamsyi dari pasangan Haji Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah, pengusaha konveksi besar Kudus.Kisaran tahun 1876, pindah ke TulungagungJawa Timur di  usia 15 tahun. Kedua orangtuanya aktif berdagang di sana.

          Pendidikan awal diperoleh dari ayahnya. Saat di Tulungagung mondok diPondok Pesantren Mangunsari. Sebelum naik haji berguru pada Kiai Haji Irsyad Naib di kawasan MayongJepara. Usia 25 tahun naik haji, dan berguru kepada ulama-ulama nusantara di Mekkah, seperti Syekh Nawawi al-Bantani Syekh Sholeh Darat as-Samarani (Semarang), Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi (Tremas, Pacitan), dan Sayyid Umar Syatha

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *